Jakarta – Dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan kemampuan digital pegawai, Biro Hukum dan Organisasi menyelenggarakan kegiatan Quick Sharing Quick Learning (QSQL) dengan tajuk “Effective Digital Delivery”. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Kerja Manajemen Perubahan Biro Hukum dan Organisasi pada Selasa (10/3/2026) secara daring dengan aplikasi Zoom Meeting.
Kegiatan diawali dengan sambutan Kepala Biro Hukum dan Organisasi, Andriana Krisnawati, yang menyampaikan bahwa di era digital ini kemampuan yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi digital menjadi hal yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap pegawai. “Karena saat ini kita berada di era digital, termasuk salah satu Asta Cita kita adalah transformasi digital. Oleh karena itu, apa yang akan disampaikan oleh narasumber hari ini dan dibagikan kepada teman-teman semua menjadi sesuatu yang penting, sekaligus dapat menambah pengetahuan dan wawasan kita bersama”, jelasnya.
Agenda utama dari kegiatan ini yaitu pemaparan materi oleh Nanda Mustika Aji Pangesti. Pada awal pemaparannya, Nanda memulai dengan dua pertanyaan reflektif, “Kenapa banyak konten informatif, tetapi tidak banyak ditonton? Kenapa banyak pesan-pesan penting sering kali tidak benar-benar sampai?”. Ia menjelaskan bahwa tidak selalu permasalahan terletak pada materi yang disampaikan. Terkadang, tantangan justru berada pada cara menyusun, mengemas, dan menyampaikan pesan tersebut.
Lebih lanjut, Nanda memaparkan bahwa terdapat tiga lapisan penting dalam digital delivery yaitu Content, Structure, dan Delivery. Satu, Content, apa yang ingin disampaikan kepada audiens. Kedua, Structure, bagaimana pesan disusun. Ketiga, Delivery, bagaimana pesan dibawakan. Lapisan pertama, content, berkaitan dengan apa yang ingin disampaikan kepada audiens. Pada tahap ini, creative thinking dan kemampuan content writing sangat menentukan kualitas konten yang dihasilkan.
Creative thinking tidak selalu menciptakan informasi baru, tetapi dapat dilakukan dengan mengemas ulang informasi yang sudah ada, mengubah bahasa teknis menjadi bahasa yang lebih mudah dipahami publik, menyederhanakan pesan tanpa menghilangkan makna, serta menghadirkan pesan yang relevan bagi audiens.
Sebelum membuat konten, penting untuk melakukan riset audiens guna menentukan siapa target yang ingin dijangkau. Dalam mencari ide konten, terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan, antara lain mengangkat masalah sehari-hari, momen musiman, Frequently Asked Questions (FAQ), konsep mitos vs fakta, serta mengolah data menjadi cerita.
“Setelah itu, kita dapat menggunakan kerangka creative writing agar pesan lebih terstruktur. Salah satunya adalah framework HEARD, yaitu Hook, Empathy, Advice, Reason, dan Direction,” ujar Nanda.
Ia menjelaskan bahwa Hook merupakan kalimat pembuka yang kuat untuk menarik perhatian audiens. Empathy berisi permasalahan yang relevan dengan audiens. Advice memberikan solusi praktis, sementara Reason menjelaskan alasan mengapa hal tersebut penting. Terakhir, Direction berisi ajakan atau call to action kepada audiens.
Pada lapisan kedua, yaitu Structure, Nanda menjelaskan bahwa struktur yang baik akan membantu pesan menjadi lebih mudah dipahami. Struktur yang jelas juga dapat mencegah pesan yang disampaikan menjadi tidak terarah, membingungkan audiens, atau kehilangan perhatian dari pendengar.
Sementara itu, lapisan ketiga, yaitu Delivery, menekankan bahwa penyampaian pesan bukan sekadar berbicara, tetapi bagaimana membuat pesan terasa hidup bagi audiens. Tanpa delivery yang kuat, konten yang sebenarnya baik dapat terasa datar, informasi penting menjadi kurang menonjol, dan pesan yang bersifat mendesak tidak terasa urgensinya.
Dalam mendukung kemampuan delivery, terdapat beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan, antara lain vocal clarity atau kejelasan vokal, pengaturan tempo dan jeda berbicara, intonasi yang dinamis agar penyampaian lebih hidup dan menarik, serta body language dan eye contact. Nanda juga mengingatkan agar menjaga postur tubuh yang menunjukkan otoritas dan memperlakukan kamera seolah-olah sedang berbicara langsung dengan satu orang audiens.
Pada akhir paparannya, Nanda menyampaikan beberapa batasan yang perlu diperhatikan dalam pembuatan konten dengan latar belakang instansi pemerintah. Konten sebaiknya menekankan aspek edukasi, menghindari opini pribadi, serta mengupayakan agar yang tampil di kamera merupakan pihak yang membuat konten tersebut. Selain itu, penting untuk menghindari kritik terhadap kebijakan pemerintah, tidak membocorkan informasi internal, serta menggunakan bahasa yang sopan dan tidak provokatif.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pegawai dalam menyampaikan pesan secara efektif di ruang digital, sekaligus mendukung upaya transformasi digital di lingkungan BPOM. (Faiz-Manajemen Perubahan)